Jumat, 07 November 2014
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KEPUASAN KERJA PEGAWAI DI PT INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKITAN SAGULING
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui budaya organisasi dan motivasi kerja pegawai serta pengaruhnya dengan kepuasan kerja pegawai di lingkungan PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif analisis dan verifikatif survey .Mengingat sifat penelitian ini adalah deskriptif dan Verifikatif yang dilaksanakan melalui pengumpulan data dilapangan, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriftive survey dan metode explanatory survey dengan menggunakan teknik simple random sampling. Ukuran sampel adalah 170 responden. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, kuisoner dan studi kepustakaan. Sedangkan teknik analisis data adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukan secara simultan memperlihatkan budaya organisasi dan motivasi sangat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling. Secara parsial, budaya organisasi dan motivasi mempengaruhi kepuasan kerja pegawai. Variabel budaya organisasi merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap variabel kepuasan kerja pegawai dibamdingkan variabel motivasi
Kamis, 06 November 2014
Pengaruh Knowledge Sharing Terhadap Kinerja Pegawai Pada PT Indonesia Power Pusat
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh knowledge sharing yang terdiri dari knowledge donating dan knowledge collecting terhadap kinerja pegawai pada PT Indonesia Power Kantor Pusat. Kinerja dinilai dari 6 aspek yaitu kualitas, kuantitas, ketepatan waktu, efektifitas biaya, kebutuhan untuk supervisi dan dampak interpersonal. Metode penelitian ini adalah metode kausal dengan teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi linear sederhana. Teknik pengumpulan data menggunakan alat bantu kuesioner yang disebarkan kepada 155 pegawai di PT Indonesia Power Pusat. Dari 155 kuesioner yang disebar, maka diperoleh 100 kuesioner yang menjadi responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random sampling. Hasil penelitian ini menunjukan hasil sebagai berikut: (1) Knowledge sharing pada PT Indonesia Power Pusat berada pada kategori tinggi yaitu 79 %(2) Kinerja pegawai pada PT Indonesia Power Pusat berada pada kategori tinggi yaitu 83% (3) Pengaruh knowledge sharing sebesar 12 % untuk menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan kinerja pegawai diantara faktor-faktor lain yang tidak penulis teliti dalam tugas akhir ini. Kata kunci: Knowledge sharing, Kinerja pegawai ABSTRACT The purpose of this research is to knowing the influence of knowledge sharing which are consist of knowledge donating and knowledge collecting to employee’s performance at PT Indonesia Power (Head Office). The performance appraisal has been valued from 6 aspects, which are Quality, Quantity, Timeliness, Cost Effectively, Needs for supervision and Interpersonal effect. The method of this research is causal method with analysis technique that used is simple line regresive analysis technique. For data collecting technique uses quetioner that gets to 155 employees at PT Indonesia Power. In according to 155 questionnaire, so can get 100 questionnaire to be respondent. Sampling technique that used to this research is proportionate stratified random sampling. Based on this researh that show : (1) Knowledge sharing at PT. Indonesia Power is categorized at high level 79 % (2) Performance appraisal at PT. Indonesia Power is categorized at high level 83% (3) The influence of knowledge sharing is 12% that being one of factor which can increase of performance appraisal between other factor that is not written in this research by writer. Keywords : Knowledge Sharing, Performance Appraisal
Rabu, 05 November 2014
Metode Perencanaan Pembangkitan dengan Optimisasi Sekuensial yang Disederhanakan
Dalam metode ini yang dipakai sebagai variabel keputusan adalah jenis-jenis alternatif pilihan pembangkit baru dan maksimum jumlahnya pertahun yang diperbolehkan untuk dibangun. Setiap alternatif dinyatakan sebagai satu simpul. Jumlah simpul setiap tahun adalah sama dengan jumlah alternatif ditambah satu ( yaitu alternatif tidak menambah pembangkit baru ).
Pada setiap tahun, pemilihan alternatif menggunakan Lifecycle Benefit/ Cost ratio sehingga untuk setiap penambahan alternatif pembangkit baru dihitung Lifecycle Cost dan Lifecycle Benefit nya sebagai berikut :
Capital cost dari alternatif tersebut = C
Prosentase disbursment biaya konstruksi pada tahun – j = p(j)
Eskalasi / tahun dari biaya konstruksi = esc
Discount rate = dsc
Jangka waktu konstruksi = n
Prosentase disbursment biaya konstruksi pada tahun – j = p(j)
Eskalasi / tahun dari biaya konstruksi = esc
Discount rate = dsc
Jangka waktu konstruksi = n
Maka :
Production cost tanpa adanya alternatif baru pada tahun – j = P0(j)
Production cost dengan adanya alternatif baru pada tahun – j = P1(j)
Umur ekonomis dari alternatif baru tersebut = m
Production cost dengan adanya alternatif baru pada tahun – j = P1(j)
Umur ekonomis dari alternatif baru tersebut = m
Maka :
dan
Alternatif yang dipilih pada tahun tersebut adalah alternatif dengan B/C Ratio paling tinggi. Dimana untuk alternatif tidak menambah pembangkit baru memiliki B/C Ratio = 1.0
Data pendukung yang dibutuhkan antara lain :
- Beban harian per jam selama perioda simulasi.
- Proyeksi pertumbuhan beban puncak dan energi
- Alternatif-alternatif pembangkit baru, total biaya investasi, lama pembangunan, prosentase disbursment biaya investasi per tahun selama masa pembangunan dan umur ekonomisnya .
- Biaya operasi dan pemeliharaan pertahun dari setiap alternatif tersebut.
- Karakteristik heat rate dari alternatif pembangkit baru tersebut.
- Data pembangkit existing, kapasitas terpasang, karateristik heat rate dan biaya operasi Tetap dan Variable.
- Reserve margin dan komposisi prosentase beban peak, base dan intermediate.
Selasa, 04 November 2014
prakiraan kebutuhan tenaga listrik pt indonesia power
Krisis ekonomi yang dialami pada pertengahan tahun 1997 menyebabkan investasi terutama di bidang infrastruktur menurun, sehingga rencana pembangunan pembangkit tenaga listrik banyak yang tertunda, khususnya untuk pembangkit tenaga thermal dengan kapasitas besar. Meskipun terjadi penurunan penggunaan tenaga listrik di sektor industri pada tahun 1998, namun pada tahun-tahun berikutnya penggunaan tenaga listrik tetap mengalami pertumbuhan. Penggunaan tenaga listrik PLN tahun 1995 mencapai 49,7 TWh dan meningkat menjadi 79,2 TWh pada tahun 2000, atau selama kurun waktu 5 tahun penggunaan tenaga listrik PLN rata-rata tumbuh sekitar 9,8% per tahun.
Dalam kurun waktu tersebut penggunaan tenaga listrik di sektor industri hanya meningkat sebesar 6,7% per tahun dari sebesar 24,7 TWh menjadi 34,0 TWh. Pertumbuhan penggunaan tenaga listrik PLN terbesar adalah sektor komersial yang mencapai sebesar 16% per tahun dari 6,9 TWh menjadi 14,5 TWh, kemudian disusul sektor rumah tangga yang tumbuh sebesar 11,1% per tahun dari 18,1 TWh menjadi 30,6 TWh. Prakiraan kebutuhan tenaga listrik dihitung berdasarkan besarnya aktivitas dan intensitas penggunaan tenaga listrik. Aktivitas penggunaan tenaga listrik berkaitan dengan tingkat perekonomian dan jumlah penduduk. Semakin tinggi tingkat perekonomian akan menyebabkan aktivitas penggunaan tenaga listriknya semakin tinggi, begitu juga untuk jumlah penduduk. Pertumbuhan pendapatan domestic bruto (PDB) merupakan pemicu pertumbuhan aktivitas penggunaan tenaga listrik di semua sektor, kecuali sektor rumah tangga. Penggunaan tenaga listrik di sektor rumah tangga dipengaruhi oleh jumlah penduduk per kapita. Prakiraan kebutuhan tenaga listrik sebagai masukan model untuk optimasi ditampilkan pada Tabel
1.Kebutuhan tenaga listrik dalam kurun waktu 2000 – 2030 diperkirakan rata-rata akan tumbuh sebesar 7% per tahun.
Pada kasus RENEW pangsa penggunaan energi terbarukan sedikit meningkat menjadi 21% pada akhir periode analisis diikuti penurunan pangsa penggunaan batubara menjadi 57%. Sedangkan pengunaan bahan bakar lainnya relatif sama dengan kasus BASE. Dengan kasusCONSERV, penggunaan gas meningkat sedangkan penggunaan batubara pertumbuhannya berkurang menjadi 9,4% per tahun. Pada kasusPVCOST pangsa penggunaan batubara pada akhir periode menurun menjadi 50% dan digantikan dengan makin bertambahnya penggunaan energi terbarukan. Sedangkan untuk kasus CAPTIVE terjadi peningkatan penggunaan BBM meskipun tidak terlalu besar.
Senin, 03 November 2014
sektor energi pembangkit tenaga listrik
Sektor energi sangat penting bagi perekonomian Indonesia karena selain sebagai komoditas ekspor juga digunakan dalam negeri sebagai bahan baker dan bahan baku. Sektor ketenaga listrikan merupakan bagian dari sektor energi yang sangat berperan dalam proses industrialisasi. Kendala utama dalam pengembangan ketenaga listrikan adalah cadangan beberapa sumber energi fosil semakin terbatas dan semakin ketatnya peraturan untuk mempertahankan kualitas lingkungan hidup.
Penggunaan energi fosil sebagai bahan bakar dipembangkit tenaga listrik dapat menimbulkan polusi udara yang dihasilkan dari proses pembakaran atau konversi. Polusi udaraini dapat berupa SO2, NO2, Co2, VHC (volatile hydro
carbon) dan SPM (suspended particulate matter). Polusi tersebut dapat menurunkan kualitas tanah, udara dan air dilingkungan sekitarnya.
Adanya peraturan pemerintah yang menyatakan bahwa batas maksimum emisi yang dikeluarkan yaitu sebesar : partikel 150mg/m3, emisi SO2 sebesar 750 mg/m3, emisi NO2 sebesar 850mg/m3 dan tingkat opasitas sebesar 20%. Dengan adanya batas maksimum pengeluaran emisi tersebut maka diharapkan agar kita menggunakan teknologi baru yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Penggunaan minyak bumi dan gas sebagai bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik menghasilkan polusi udara yang relative kecil dibandingkan dengan batubara. Pengunaan batubara sebagagai bahan bakar di pembangkit tenaga listrik dalam jumlah yang besar akan menimbulkan polusi yang semakin besar, walaupun biaya pembangkitannya dapat bersaing dengan pembangkit listrik berbahan bakar minyak bumi dan gas. Untuk itu, hubungan antara biaya dan lingkungan sangat diperlukan dalam pemanfaatan sumber energi fosil sebagai bahan bakar di pembangkit tenaga listrik.
Energi terbarukan seperti tenaga surya (matahari) meskipun ramah lingkungan tetapi biaya untuk investasi cuku besar. Energi air dan energi panas bumi meskipun mempunyai potensi yang cukup besar namun perlu pertimbangan yang matang untuk mengembangkannya, karena sumber energi ini berada jauh dari pengguna. Oleh karena itu, penelitian perencanaan pembangkit tenaga listrik yang dianalisis dalam makalah ini, diarahkan pada pemilihan komposisi bahan bakar dan pengembangan pembangkit tenaga listrik secara terpadu dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
Perencanaan pembangkit tenaga listrik dilakukan dengan menggunakan optimasi dari sisi penyediaan energi dengan mengambil kurun waktu selama 30 tahun, yaitu dari tahun 2000 sampai tahun 2030. dari optimasi ini dibuat lima kasus dengan mempertimbangkan komposisi dari bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik. Masing-masing kasus akan menghasilkan biaya serta emisi tertentu. Berdasarkan biaya dan emisi ini akan dipilih kasus yang optimum melalui analisis pengambilan keputusan dengan berbagai krtiteria.
Minggu, 02 November 2014
perencanaan pengembangan sistem tenaga listrik pembangkit pt idonesiaa power
Pada proses perencanaan pengembangan sistem tenaga listrik diperlukan adanya suatu prakiraan kebutuhan tenaga listrik yang dapat memberikan informasi kepada pembuat kebijakan sehingga dengan prakiraan yang baik akan dapat mengurangi resiko pembangunan yang tidak dibutuhkan. Kebutuhan tenaga listrik suatu daerah tergantung dari letak daerah, jumlah penduduk, standar kehidupan, rencana pembangunan atau pengembangan daerah dimasa yang akan datang. Sehingga dalam prakiraan diperlukan data yang mencakup perkembangan daerah, tingkat perekonomian daerah maka dapat digunakan jumlah Produk Domestik Regional Bruto, kemudian jumlah penduduk daerah tersebut, dan sebagainya. Prakiraan kebutuhan tenaga listrik yang kurang tepat (lebih rendah dari permintaan) dapat menyebabkan kapasitas pembangkitan tidak mencukupi untuk melayani konsumen yang dapat merugikan perekonomian Negara, bila prakiraan terlalu besar dari permintaan maka akan mengalami kelebihan pembangkitan yang merupakan pemborosan karena listrik tidak dapat disimpan. Agar gambaran akan kebutuhan energi listrik dan kebijakan energi listrik dapat diketahui, maka perlu kiranya untuk melakukan perkiraan kebutuhan energi listrik
Dalam memprakirakan kebutuhan tenaga listrik tidak hanya didasarkan realisasi kebutuhan tenaga listrik tahun-tahun sebelumnya saja, melainkan dipengaruhi juga oleh faktor-faktor lain dalam suatu daerah, misalnya jumlah penduduk dan pertumbuhan perekonomian daerah.
Dalam perkiraan jangka panjang terhadap konsumsi tenaga listrik dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
- Faktor Ekonomi, yang ditentukan melalui data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
- Jumlah Penduduk.
- Jumlah Rumah Tangga
- Jumlah Pelanggan listrik sektor Rumah Tangga.
- Tarif Dasar Listrik.
Sabtu, 01 November 2014
Table data dari pembangkit tenaga listrik pt indonesia power
Berdasarkan dari pada keputusan menteri ESDM no 37 th 2008 persyaratan unit pembangkit adalah sebagi berikut:
kriteria teknis dan desain, serta persyaratan unjuk kerja untuk unit pembangkit yang terhubung langsung ke jaringan transmisi, dengan pengecualian unit-unit yang dianggap sangat kecil. Untuk kepentingan Aturan Jaringan dan Aturan Penyambungan, klasifikasi unit pembangkit didefinisikan sebagai berikut:
Besar : lebih besar atau sama dengan 100 MW;
Menengah : dari 30 MW sampai kurang dari 100 MW;
Kecil : kurang dari 30 MW.
- Unit Pembangkit Besar harus dilengkapi dengan:
- governor reaksi cepat yang berpengaruh pada pengatur primer frekuensi Sistem di antara 48,5 Hz hingga 51,0 Hz. Pembangkit harus mampu menerima sinyal Automatic Generation Control (AGC) dari dispatch Pusat Pengatur Beban/Unit Pengatur Beban untuk memungkinkan pengaturan sekunder frekuensi Sistem;
- alat pengatur tegangan otomatis reaksi cepat untuk pengaturan tegangan terminal generator dalam rentang operasi unit pembangkit tersebut tanpa mengakibatkan ketidakstabilan; dan
- power system stabilizer.
- Setiap Unit Pembangkit Menengah harus dilengkapi dengan:
- governor reaksi cepat yang berpengaruh pada pengatur primer frekuensi di antara 48,5 Hz hingga 51,0 Hz; Pembangkit harus mampu menerima sinyal Automatic Generation Control (AGC) dari dispatch Pusat Pengatur Beban/Unit Pengatur Beban untuk memungkinkan pengaturan sekunder frekuensi Sistem; dan,
- alat pengatur tegangan otomatis bereaksi cepat untuk pengaturan tegangan terminal generator dalam rentang operasi unit pembangkit tersebut tanpa mengakibatkan ketidakstabilan; dan
- power system stabilizer.
- Setiap Unit Pembangkit Kecil harus dilengkapi dengan:
- governor yang berpengaruh pada pengatur primer frekuensi di antara 48,5 Hz hingga 51,0 Hz; dan,
- alat pengatur tegangan otomatis untuk pengaturan tegangan terminal generator dalam rentang operasi unit pembangkit tersebut tanpa mengakibatkan ketidakstabilan.
Setiap Unit Pembangkit harus mampu beroperasi sesuai dengan kemampuan yang dideklarasikan:
- pada frekuensi dalam rentang 49,0 Hz hingga 51,0 Hz; dan
- pada setiap faktor-daya (power factor) di antara 0,85 lagging dan 0,90 leading. Pengecualian dari persyaratan ini adalah unit pembangkit generator induksi kapasitas kecil atau yang disetujui oleh Pusat Pengatur Beban atau Unit Pengatur Beban/Sub-Unit Pengatur Beban.
Setiap Unit Pembangkit harus tetap terhubung ke Jaringan pada rentang frekuensi 47,5 Hz hingga 52,0 Hz. Pemisahan Unit Pembangkit dari Jaringan dalam rentang frekuensi ini dibolehkan apabila merupakan bagian dari pengamanan Jaringan secara keseluruhan yang diatur oleh Pusat Pengatur Beban atau Unit Pengatur Beban/Sub-Unit Pengatur Beban.
E.Saluran Transmisi
Energi listrik yang dibangkitkan dari pembangkit listrik disalurkan melalui kawat-kawat atau saluran transinisi menuju ke pusat- pusat beban.
Saluran transmisi menurut cara penyalurannya ada dua macam, yaitu :
a. Saluran Udara
Adalah saluran transmisi yang menggunakan kawat-kawat telanjang yang digantungkan pada tiang transmisi dengan perantaraan isolator-isolator.
Langganan:
Postingan (Atom)